Beranda » Seni & Budaya » Teater » Catatan Sutradara

Dari Nonsensitas dan Kekenesan Sebuah Proses

Catatan untuk Pementasan Meja Makan Kita

Oleh Moh. Syafari Firdaus
0 komentar 415 dilihat 4 menit membaca
nonsensitas

Jika kita percaya bahwa di dalam setiap pementasan (teater) akan tersimpan suatu sense, maka sense dalam pementasan ini barangkali adalah nonsense. Di sini hanya terjadi suatu peristiwa yang kebetulan harus menjadi ada, meskipun sebenarnya boleh jadi tidak perlu ada. Bukannya tidak mungkin pula jika pementasan ini kemudian disikapi hanya sebagai kekenesan. Namun, kekenesan itu pun merupakan suatu peristiwa yang berhak untuk mengartikulasikan dirinya. Paling tidak, agar ia bisa menjadi ada, dikenali, dan, lebih dari itu, tampak berharga (sekalipun harganya itu mungkin tak berharga).

Demikianlah, Meja Makan Kita yang seterusnya harus terjadi ini, pada akhirnya bergerak dari suatu pikiran untuk mencoba mencari sejumlah kemungkinan di belakang pretensi nonsensitas dan kekenesan yang muncul dalam proses (latihan) berteater. Saya sendiri tidak terlalu yakin, apakah ini merupakan bahasa yang tepat untuk mengucapkan pilihan yang sebenarnya kami inginkan. Yang jelas, pada awalnya kami hanya berangkat dari seperangkat meja makan, empat orang aktor yang dibebani untuk mencari biografi tokoh dan perannya sendiri (bahkan mungkin yang diperankannya itu adalah dirinya sendiri), dan sejumlah benda yang mungkin bisa diajak untuk turut bermain bersamanya. Selebihnya, kami hanya berusaha untuk terus saling menyikapi, baik di tingkat kognitif maupun pemanggungan, untuk membuka dan menemukan ruang permainan dalam proses menuju realitas pentas sebagaimana yang kali ini kami bawakan.

Proses semacam ini memang boleh jadi merupakan format yang sudah sangat biasa. Namun, secara naif, ada semacam harapan bahwa kami tidak ingin sekadar mengadopsi begitu saja sebuah format proses kreatif yang sudah terlebih dahulu dilakukan oleh sejumlah kelompok teater lain. Terlebih jika kami kemudian sampai bergerak untuk turut berbondong-bondong pula terbawa arus mainstream atau trend berteater yang belakangan dikiblati. Bukannya kami tidak ingin untuk bergerak ke arah itu. Hanya saja, dengan adanya sejumlah pilihan dan juga keterbatasan, kami dipaksa untuk secermat mungkin memilih dengan sepenuhnya menyadari bahwa ada sejumlah persoalan di tingkat elementer berteater yang terlebih dahulu harus kami selesaikan.

Maka dari itu, pilihan Meja Makan Kita ini pada tahap tertentu hanya berusaha untuk membongkar dasar lakuan dari cara berteater konvensional. Persoalan-persoalan yang berkaitan dengan biografi peran yang seterusnya mendasari karakteristik para tokoh dan sejumlah sarana keaktoran lainnya, pada konteks ini tetap dipertahankan sebagai dasar pemeranan. Barangkali yang sedikit membedakan, dalam pemanggungannya kami berusaha untuk menghadirkan wilayah lain, yang boleh jadi, terutama di wilayah (aksentuasi) artistik, “tidak konvensional”. Selain itu, kami tidak memulainya dari panduan suatu naskah. Naskah baru muncul kemudian, disunting secara bertahap, ketika kami merasa perlu untuk mengingat kembali potongan konflik dan artikulasi verbal macam apa saja yang telah ditemukan. Sementara verbalisasi dari produk bahasanya pun, pilihannya jatuh untuk memangkasnya sampai pada batas yang kami anggap “efektif”, tanpa meniadakan “ketertibannya”.

Di tingkat literer ini, persoalan macam apa yang sesungguhnya harus terjadi di meja makan itu bukanlah merupakan persoalan yang kami anggap terlalu signifikan. Setiap upaya pemaknaan, disimpan (hanya) untuk jadi “milik pribadi”. Demikian pula dengan tendensi dan muatan tematisnya. Dalam aktualisasinya, pada tahap ini pun diserahkan sepenuhnya pada interaksi dan penyikapan yang muncul dari pemeranan para aktor dalam realitas pentas yang kemudian mesti dihadapinya. Tidak mengapa kalaupun peristiwa dan komunikasi yang dibangunnya menjadi sangat fragmentaris, mengalami diskontinyuitas, monoton, tidak mengusung apa-apa, dan jauh dari konteks referensialnya. Persoalannya hanya tinggal, apakah kami bisa mengemas semua itu agar bisa tetap ternikmati? Akan tetapi, boleh jadi apa yang ingin kami ucapkan itu di dalam realitas pentasnya mengalami sejumlah ketersendatan dan masih merupakan gerak yang serba tanggung. Hal itu memang sangat kami sadari. Hanya saja, lagi-lagi secara naif, mudah-mudahan ada gagasan kami yang tersisa di sana, dan masih bisa terbaca jejak kehadirannya.

 

Moh. Syafari Firdaus, Sutradara

Mungkin Anda akan Tertarik

Tinggalkan komentar