Film Indonesia Dekade 1990-1999

(Catatan ini ditulis tahun 2000)

Booming sinetron di televisi yang pada awalnya diilhami oleh kesuksesan telenovela (soap opera) pada paruh 90-an, tampaknya membawa ekses yang semakin tidak menguntungkan bagi kelangsungan hidup dunia film layar lebar Indonesia. Sementara pada tahun-tahun tersebut dunia film kita memang sedang tidak berada dalam kondisi fit, nyaris ditinggalkan publiknya, kehadiran sinetron seolah membawa gairah baru yang meledak-ledak bagi sebagian besar sineas kita yang merasa bahwa film layar lebar sudah tidak bisa lagi memenuhi kebutuhannya, baik dalam tataran ekonomis maupun eksistensial. Mereka beramai-ramai melakukan “bedol desa”, banting stir, dan berlomba-lomba untuk berproses kreatif pada lahan garapan yang secara ekonomis memang lebih menjanjikan ini.

Hal yang seterusnya terjadi adalah kian terpuruknya film layar lebar kita: terkena stroke dan mengalami kelumpuhan sebagian. Berbanding terbalik dengan produksi sinetron yang secara kuantitas dari tahun ke tahun terus saja meningkat, produksi film layar lebar Indonesia justru kian anjlok sampai pada ambang batas yang begitu mencemaskan. Belum lagi kalau penilaian dari segi kualitas harus diturutsertakan: film layar lebar Indonesia nyaris hanya tinggal erangan pendek yang sungguh memilukan. Selama tahun 2000 ini, misalnya, praktis tercatat hanya dua film saja yang beredar di khalayak luas (“dipasarkan”), Puisi Tak Terkuburkan (Garin Nugroho) dan Petualangan Sherina (Mira Lesmana).

Dalam catatan Sekretariat Nasional Kine Klub Indonesia (Senakki), selama rentang satu dasawarsa terakhir (1990—1999), produksi film layar lebar Indonesia hanya berjumlah sekitar 359 judul, dengan 9 judul di antaranya belum/tidak tuntas dalam penggarapannya. Dari 359 judul itu, film yang terbilang layak nilai dan cukup punya kualitas tidak lebih dari 10%-nya saja. Selebihnya, hanya bermutu pas-pasan, bahkan mungkin tidaklah terlalu kasar kalaupun harus disebut sebagian besar darinya hanya merupakan film-film murahan yang jauh di bawah standar.

Pada tahun 1990, film yang diproduksi masih terhitung cukup lumayan, tercatat ada 110 judul film. Jenis film yang diproduksinya pun boleh dibilang masih cukup variatif. Film-film yang layak nilai yang diproduksi pada tahun ini di antaranya adalah Boneka dari Indiana (Nya Abbas Akup), Cinta Dalam Sepotong Roti (Garin Nugroho), Pengantin (Wim Umboh), Rebo & Robby (Ucik Supra), dan Taksi (Arifin C. Noer).

Pada tahun-tahun berikutnya, produksi demi produksi film kita itu kian terus menyusut. Berturut-turut, pada tahun 1991 jumlah film yang diproduksi tercatat hanya 61 judul. Bibir Mer (Arifin C. Noer), Lagu Untuk Seruni (Labbes Widar), Plong (Naik Daun) (Putu Wijaya), dan Potret (Burce Malawau), adalah beberapa film yang boleh dinilai cukup punya kualitas. Pada tahun 1992 produksi film kita itu kembali susut setengahnya, menjadi 31 judul. Pada tahun ini, hanya Ramadhan dan Ramona (Chaerul Umam) dan Surat Untuk Bidadari (Garin Nugroho) yang tercatat sebagai film yang cukup berpredikat.

Dunia perfilman kita tampak kian terpuruk ketika pada tahun 1993 film yang diproduksi hanya sekitar 26 judul. Selain film Badut-Badut Kota (Ucik Supra), sebagian besar film yang diproduksi pada tahun ini adalah film-film silat dan film-film yang “bernuansakan seks dan erotika”, seperti yang digarap oleh sutradara Tommy Burnama (Pedang Ulung, Perempuan Lembah Wilis, Si Rawing II) dan Atok Suharto (Misteri di Malam Pengantin, Misteri Permainan Terlarang).

Pada tahun 1994, diproduksi 23 judul. Muka dunia perfilman Indonesia pada tahun ini masih bisa terselamatkan oleh kehadiran film Garin Nugroho, Bulan Tertusuk Ilalang yang sempat melanglang buana ke sejumlah ajang festival dunia. Sementara pada tahun 1995 yang hanya memproduksi 22 judul (1 judul belum/tidak terselesaikan), giliran Cemeng 2005 (The Last Primadona) garapan N. Riantiarno yang memberi sekadar tanda-tanda kehidupan pada dunia film Indonesia. Selebihnya, produksi film pada tahun ini lagi-lagi hanya dijejali dengan film-film bernuansakan seks dan erotika.

Produksi film pada tahun 1996 memang tampak mengalami sedikit peningkatan dari tahun-tahun sebelumnya. Tercatat ada 37 judul film yang diproduksi pada tahun ini. Hanya sayangnya, tampak benar jika film-film yang bernuansakan seks dan erotika kian tambah semarak dan sangat mendominasi. Boleh kita simak, dari 37 judul film yang diproduksi, 33 judul di antaranya adalah film-film yang bertitelkan nafas seksualitas dan erotika semacam itu: Akibat Sex Bebas (Yongki G. Souhoka), Kenikmatan Terlarang (Proke), Birahi Perawan (Emil G. Hamp, yang pada tahun 1996 ini sangat produktif, menyutradarai 8 judul film), dan masih banyak lagi. Pada tahun ini, praktis hanya terselip film Dari Digul ke Nusakambangan (Suro Buldog) hasil garapan Slamet Rahardjo Djarot yang berada di luar mainstream produksi film-film seksual-erotik itu.

Kondisi seperti ini tidak banyak mengalami perubahan di tahun 1997. Dari 35 film yang diproduksi (2 judul di antaranya tidak/belum tuntas terselesaikan), sebagian besar masih didominasi oleh jenis film yang bernafaskan seksual-erotik pula. Hanya 4 judul film yang boleh dipandang layak nilai: Fatahillah (Chaerul Umam dan Imam Tantowi), Kuldesak (M. Rivai Riza, Mira Lesmana, Rizal Manthovani, dan Nan Achnas, beredar tahun 1998), Daun di Atas Bantal (Garin Nugroho, beredar tahun 1998), dan Sri (Marselli Sumarno, beredar tahun 1999).

Dari satu dasawarsa terakhir itu, yang paling parah adalah produksi film Indonesia di tahun 1998 dan 1999. Produksi film pada tahun 1998 kembali turun dengan sangat drastis, menjadi 8 judul (2 judul di antaranya belum/tidak selesai), sedangkan pada tahun 1999 film yang diproduksi hanya 6 judul (4 di antaranya belum/tidak selesai). Selain dari segi kuantitas jumlahnya sangat minim sekali, pun tidak ada film yang bisa dinilai cukup berkualitas. Memang, kondisi ini mungkin bisa dimaklumi, mengingat Indonesia pada saat itu berada dalam keadaan yang serba tak menguntungkan pula akibat krisis moneter yang berkepanjangan. Hanya saja hal ini bisa lebih mempertegas bagaimana parahnya dunia perfilman Indonesia, yang dari waktu ke waktu keberadaannya terus saja terpuruk dan semakin tak berdaya.

Menyimak kondisi yang demikian, maka tidaklah berlebihan kalaupun sebagian besar kalangan tetap merasa pesimis jika dunia perfilman kita akan bisa kembali bangkit seperti semula. Bagi para sineasnya sendiri, terutama bagi mereka yang selama ini telah nyaman di dunia sinetron, kiranya masih akan tetap lebih memilih jalur untuk memproduksi serial-serial televisi, yang mungkin dipandang lebih “realistis”, dengan segmen pasarnya yang relatif lebih jelas dan profitable, daripada kembali untuk mencoba-coba memproduksi film yang masih sarat dengan berbagai persoalan dan kendala.

Bagi yang tetap optimis, paling tidak kini mereka harus bisa menjawab pertanyaan, bilakah di awal era milenium ketiga ini dunia perfilman Indonesia akan bisa kembali segar, bergairah, dan tegar dalam memancangkan bendera eksistensinya? Bagaimana halnya dengan kehadiran film-film yang kemudian mengidentifikasikan dirinya sebagai “film independen” yang belakangan tampak cukup marak diproduksi oleh sejumlah komunitas? Akankah itu bisa menjadi awal bagi bangkitnya “generasi baru” dunia perfilman Indonesia?

Barangkali, untuk sekadar berharap, tidak ada salahnya.

* * *

(Bandung, Pajajaran, 2000)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *