Mengurut Jejak Pikiran Marx

Karl Marx. Di antara seratus tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah, Michael H. Hart menempatkan filsuf kelahiran kota Trier Jerman yang menggagas “sosialisme ilmiah” ini pada nomor urut 11, satu nomor di bawah Albert Einstein. Hart menilai, Karl Marx layak untuk ditempatkan pada ranking setinggi itu karena sejumlah pemikiran yang berhasil dirumuskannya telah membuahkan suatu ideo-logi yang berpengaruh hebat luar biasa bagi perkembangan dunia. Boleh dibayangkan, tidak kurang dari sepertiga umat manusia di dunia ini pernah terpengaruh olehnya: suatu jumlah yang sangat besar, bahkan mungkin yang terbesar jika dibandingkan dengan jumlah penganut ideologi manapun di sepanjang sejarah umat manusia.

Penilaian yang diberikan Hart itu agaknya memang tidak berlebihan. Jika menyimak fenomena yang ada, pemikiran yang ditorehkan Marx pada kenyataannya memang telah menjadi salah satu rangsangan besar bagi perkembangan sosiologi, ilmu ekonomi, dan filsafat kritis. Hal ini bisa tampak dari banyak-nya kategori pemikiran Marx yang sudah merambah memasuki kawasan filsafat dan ilmu-ilmu sosial lain, bahkan dalam diskursus politik, sosial, ekonomi, dan budaya di kalangan kaum intelektual hampir di seluruh dunia.

Pemikiran Marx bisa menjadi begitu populer karena ia sendiri tidak pernah memahami pemikirannya hanya sebatas usaha teoritis-intelektual. Lebih dari itu, ia pun mengarahkannya sebagai usaha nyata dan praktis untuk menciptakan kondisi yang lebih baik. Marx selalu menuntut agar filsafat menjadi praktis, dengan maksud agar filsafat menjadi pendorong perubahan sosial. Dalam pendapat Marx, para filosof  hanya memberikan interpretasi yang berbeda kepada dunia. Padahal, bagi Marx yang justru diperlukan ialah mengubahnya! Cara pandang seperti itulah yang kemudian menjadi salah satu ciri khas pemikiran Marx: ia tidak hanya tinggal dalam wilayah teori, melainkan, sebagai ideologi, ia pun tumbuh menjadi sebuah kekuatan sosial-politik yang dahsyat.

Dengan melihat hebatnya pengaruh yang muncul dari pemikirannya itu, maka kiranya tidaklah terlalu berlebihan pula kalaupun ada yang menyebut, sampai saat ini baru Marx saja yang mampu mengembangkan sebuah pemikiran yang pada dasarnya filosofis, namun kemudian bisa tumbuh menjadi teori perjuangan bagi sekian banyak generasi untuk pelbagai gerakan pembebasan.

* *

Sejumlah pemikiran yang telah ditorehkan Karl Marx tersebut, berikut bagaimana perkembangannya menjadi Marxisme sampai Perang Dunia I, disajikan kembali oleh Franz Magnis-Suseno secara objektif dan kritis di dalam buku ini. Betul, Magnis sendiri menyadari, kiranya nyaris tidak mungkin jika jang-kauan pemikiran Marx yang begitu luas serta segala kecanggihannya itu bisa diangkat secara gamblang di sini. Oleh karena itu, Magnis menyebut jika tulisan yang dikedepankannya ini tidak lebih dari sebuah pengantar, dengan tujuan agar pembaca bisa memperoleh orientasi dasar tentang apa yang sebenarnya dipikirkan Marx serta dengan bantuan untuk mengevaluasikannya dengan memberi sejumlah catatan kritis yang ia tempatkan di setiap akhir bab pembahasan.

Sebelum masuk pada pemikiran Marx, Magnis memulai pemaparannya dengan menguraikan bentuk-bentuk sosialisme utopis yang mendahuluinya. Ihwal cita-cita dan gagsan sosialisme yang dikemukakan oleh para pemikir sosialis pra-Marx ini (mulai dari zaman Yunani kuno hingga abad-19), diperkenalkan secara kronologis dalam satu bahasan yang singkat namun cukup komprehensif. Pokok-pokok pikiran dari filsafat G.W.F. Hegel dan Ludwig Feuerbach yang amat berpengaruh pada perjalanan intelektual Marx, disinggung pula oleh Magnis dalam dua bab terpisah.

Dalam uraiannya mengenai pemikiran Marx, Magnis memilahnya dalam lima tahap perkembangan. Berbeda halnya dengan Louis Althusser yang mengemukakan adanya perubahan radikal dalam pemikiran Marx, di sini Magnis lebih berpihak pada pendapat—sebagaimana Jean-Yves Calves SJ—yang menekankan adanya kesinambungan dari setiap tahap perkembangan pemikiran Marx tersebut.

Dua tahap pertama pemikiran Marx, terpicu dari gagasan filosofis Hegel dan Feuerbach. Dari Hegel, telah membawa Marx untuk mencari jawaban atas pertanyaan, bagaimana membebaskan manusia dari penindasan sistem politik reaksioner (Tahap 1); sedangkan dari kritik agama Feuerbach atas Hegel, di sana Marx menemukan kenyataan bahwa manusia sebenarnya terasing dari dirinya sendiri (Tahap 2). Pada tahap ini, Marx sampai pada konklusi bahwa keterasingan dasar manusia adalah keterasingan dari yang sifatnya sosial, dan keterasingan dalam pekerjaan adalah dasar dari segala keterasingan itu. Marx memberi pemahaman demikian karena keterasingan manusia dari kesosialannya itu diproduksi dalam pekerjaan di bawah sistem ekonomi kapitalis. Lebih dari itu Marx mencermati pula bahwa tanda dari hakikat sosial manusia yang terasing, terwujud dalam eksistensi negara sebagai lembaga dari luar dan dari atas yang memaksa individu-individu untuk bertindak sosial, sedangkan individu itu sendiri semata-mata bertindak egois. Keterasingan itu pulalah yang tercermin dalam agama, di mana manusia menem-patkan cinta kasih di luar dirinya dalam bentuk ilahiah dan mengharapkan penebusan dari egoisme yang ilahi itu (h.79).

Dari konklusi perihal keterasingan manusia itu, pada tahap selanjutnya (Tahap 3) Marx sampai pada pikiran bahwa manusia hanya dapat dibebaskan apabila hak milik pribadi atas alat-alat produksi (akibat sistem ekonomi kapitalis yang menjungkirbalikkan makna pekerjaan menjadi sarana eksploitasi) dihapus melalui revolusi kaum buruh. Pada tahap inilah Marx mencapai posisi klasik sosialisme, yang juga menandai perubahan perspektif untuk pendekatannya, dari yang tadinya murni bersifat filosofis menjadi semakin sosiologis: lahirnya gagasan sosialisme ilmiah (Tahap 4). Marx sendiri menyebutnya sebagai pa-ham sejarah yang materialistik: sejarah dimengerti sebagai dialektika antara perkembangan bidang ekonomi di satu pihak dengan struktur kelas-kelas sosial di pihak lain. Gagasan ini pula yang mengantarkan pada dasar ajaran Marx yang meyakini bahwa faktor yang menentukan sejarah bukanlah politik atau ideologi, melainkan ekonomi. Bagi Marx, untuk memahami sejarah dan arah perkembangannya, tidak perlu memperhatikan apa yang dipikirkan oleh manusia, melainkan bagaimana ia bekerja dan berproduksi; cara berproduksi inilah yang akan menentukan cara manusia berpikir dan menentukan adanya kelas-kelas sosial (h.140-41).

Pandangan inilah yang kemudian membawa Marx untuk menekuni studi ekonomi dan mulai mempreteli sistem ekonomi kapitalis. Dari studi yang dilakukannya, Marx berkeyakinan bahwa ekonomi kapital-isme akan menghasilkan kehancuran dengan sendirinya. Selain itu, kontradiksi yang tersimpan dalam sis-tem produksi kapitalis pada akhirnya niscaya akan melahirkan revolusi kelas buruh yang akan menghapus hak milik pribadi atas alat-alat produksi dan mewujudkan masyarakat sosialis tanpa kelas. Dalam catatan Magnis, pandangan ini yang menandai tahap akhir pemikiran Marx (Tahap 5).

Bahasan yang membicarakan ihwal perjalanan ajaran Marx menjadi Marxisme yang kemudian berkembang sebagai ideologi kaum buruh di dunia, merupakan uraian yang tak kalah menariknya pula. Sum-bangan gagasan yang diberikan Friedrich Engels, mendapat porsi bahasan yang cukup luas di sini. Pada bagian ini pun dikedepankan pula perihal pergolakan terpenting dalam gerakan Marxis prakomunis yang dikenal dengan perselisihan revisionisme: sebuah upaya untuk menyesuaikan Marxisme dengan perkem-bangan perekonomian di negara-negara industri. Eduard Bernstein, Karl Kautsky, dan Rosa Luxemburg, adalah tiga tokoh yang pikiran-pikirannya dikedepankan Magnis dalam kaitannya dengan masalah ini. Sebelum mengakhirinya dengan penutup, Magnis pun melengkapi buku ini dengan paparan singkat me-ngenai tokoh-tokoh sosialis pra-Revolusi Oktober dan sejumlah aliran penting Marxisme yang berkembang di luar Marxisme Ortodoks.

Akhirnya, dengan membaca buku ini kita akan bisa menyimak dan sekaligus diajak untuk turut men-cermati, meski tidak sepenuhnya tuntas, bagaimana pemikiran Marx dengan segala ajarannya yang untuk konteks di Indonesia sekian lama telah dipetieskan keberadaannya. Setidaknya, dari buku ini pun mungkin kita akan bisa lebih mengenal bahwa Marxisme, selain sebagai salah satu tantangan intelektual terbesar manusia abad ke-20, jika tidak dilebih-lebihkan, bukanlah “hantu” yang menakutkan.

* * *

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *