Home Seni & BudayaTeater SWING! – Naskah Lakon

SWING! – Naskah Lakon

by Dauzsy

Para tokoh :

1. Didi; 2. Gogo; 3. Pozzo.

ll

Panggung berisikan sebentuk guillotine.

Adegan 1

Seseorang, mungkin ia adalah seorang terhukum, dengan tubuh dan tangan terikat muncul memasuki panggung; berjalan menuju guillotine itu berdiri. Disusul kemudian dengan seseorang yang menampakkan dirinya sebagai algojo dan seorang pendeta. Ada ritual kecil yang kemudian mereka lakukan sesaat setelah mereka tiba di dekat guillotine itu. Tampak benar jika mereka sudah terlalu biasa melakukannya.

Dengan caranya masing-masing mereka mempersiapkan diri.

Pendeta : [Berulang-ulang] In nomine Patris, et vilii, et spriritus sanctus. Amen.[1]
Terhukum : Tidak bagiku. Aku memang telah menemukan diriku dalam keadaan seperti ini, bahkan ketika aku baru dilahirkan. Jauh sebelum aku berada di sini, aku memang selalu meyakini jika hidup hanyalah sekarung tomat. Sebagian busuk, sebagian harus tercecer di jalan-jalan. Seperti juga paman dari ibuku yang sehari-harinya berdagang tomat, terkadang ia sampai harus mengobral tomat-tomatnya karena ia sama sekali tidak menginginkan tomat-tomatnya itu keburu berubah menjadi saus tomat sebelum ia menjualnya. Ini persoalan harga diri karena tomat dan saus tomat adalah dua hal yang mungkin sama namun sebenarnya sungguh sangat berbeda. Tomat adalah hidupnya, hidup itu sendiri; sedang saus tomat adalah kehidupannya yang lain, kehidupan setelah tomat, kehidupan tomat yang tergiling. Ya, jadinya tidak bagiku. Aku merasa jika di sini aku semakin meyakini jika hidup adalah sebentuk keabadian yang tak pantas untuk dimiliki. Apalah artinya hidup jika tidak mati—

Sementara si Terhukum bicara, si algojo tampak menguji ketajaman pisau guillotinenya dengan semangka. Srettt! Bukkk!

Algojo : Sempurna! [Memperlihatkan potongan semangka itu pada si Terhukum] Bagaimana?
Terhukum : Inilah yang sering jadi soal. Pesan tomat diberi semangka. Sungguh mengharukan. Kiranya mereka tahu betul siapa aku. Aku memang pernah punya pengalaman mengerikan dengan semangka. Suatu kali aku pernah berkebun semangka. Aku rawat kebunku itu. Tapi sungguh malang. Ketika sudah sampai masa berbuah, semangka-semangka itu ternyata semuanya kutemukan berwajah tomat— [Terus bicara meski kepalanya sudah berada di dalam pasungan]
Pendeta : [Menimpali suara si Terhukum] Réquiem aetérnam dona eis dómine: et lux perpétua lúceat eis. Tedecet hymnus deus in sion et tibi reddétur votum in ierúsalem: exáudi oratiónem meam ad te omnis caro véniet. In paradísum dedúcant te ángeli in tuo adventu suscípiant te mártyres et perdúcant te in civitátem canctam Jérusalem. angelórum te suscípiat, et cum lázaro, quondam páupere aetérnam hábeas réquiem.[2] In nomine Patris, et vilii, et spriritus sanctus. Amen.

Lampu black out disusul dengan suara bergedebum dari guillotine itu.

Fade in to Adegan 2.

Adegan 2

Pada adegan ini, di atas panggung ditunjukkan bagaimana perubahan/pergantian, metamorfosis tokoh: dari tokoh-tokoh yang disebut pada Adegan 1 menjadi tokoh Didi, Gogo, dan Pozzo. Sejumlah laku yang terjadi pada adegan ini di antaranya (mungkin) berupa ganti kostum, me-make up diri, menyiapkan properti masing-masing, dan membereskan segala perlengkapan yang sudah tidak dibutuhkan di atas panggung. Di sela-sela kesibukan itu, mungkin pula muncul dialog-dialog (pendek) di antara mereka, seperti :

Seseorang : Sudah mirip?
Seseorang : Terlalu tebal.
Seseorang : Tak ada yang tahu.
Seseorang : Topinya.
Seseorang : Tomat! Tomat!
Seseorang : Jangan mengejek!
Seseorang : Jelek!
Seseorang : Cepat pakai mantelmu!
Seseorang : Ini bukan sepatuku.
Seseorang : Botol!
Seseorang : Cerewet!
dsb.

Adegan 3

Didi sudah terlebih dulu siap. Pozzo masih sibuk berdandan; sementara Gogo masih tampak berusaha keras untuk memakai sepatunya.

Didi : [Tidak sabar] Ayo, cepat! Kita harus segera mulai.
Gogo : Sebentar.
Didi : Kebiasaan. Lagi-lagi sepatumu. Pozzo! Ayo!
Pozzo : Sabar.
Didi : Kebiasaan. Kalian selalu saja lamban. [Meneguk minuman]

Pozzo tetap sibuk dengan penampilannya; Gogo masih bergelut dengan sepatunya.

Didi : Cepatlah! Kita harus segera mulai! Pozzo! Gogo! Kita harus—
Pozzo : [Tidak mengacuhkan perkataan Didi] Hai, Didi! Bagaimana penampilanku?
Didi : Sudah! Cocok! Cocok! Cocok! Cocok!!
Pozzo : Sebentar [Mengenakan topinya, lalu bergaya] Kalau begini?
Didi : Cocok!!
Pozzo : Hai, kau lihatlah dulu!
Didi : Cerewet! Payah!! Sekarang, bisakah kita mulai?
Gogo : Rusak?! [Memperhatikan sebelah sepatunya] Rusak!
Didi : Maka dari itu, kita harus segera memulainya! Pakai sepatumu atau buang saja kalau perlu!
Pozzo : [Acuh tak acuh] Ya, buang saja sepatumu itu, Gogo!
Gogo : [Gusar] Buang? Kalian suruh aku untuk membuangnya? Tidak!! Sepatu ini sudah begitu banyak menyimpan kenangan dan sejarah. Ia sangat berarti! Apapun yang terjadi, aku tidak akan pernah membuangnya!
Didi : Tapi sekarang kita harus segera memulainya! Sentimentil! [Merutuk, dan kembali meneguk minumannya] Ayo! Cepatlah! Jangan biarkan dia menunggu. Pozzo! Ayo! Gogo, cepat pakai sepatumu!
Gogo : Cepat! Cepat! Tidakkah kau lihat sepatuku ini rusak? Lihat! [Memperlihatkan bolong di sepatunya] Aku bahkan bisa melihat wajahmu dari sini! [Membanting sepatu itu di hadapan Didi]
Didi : Kucing rebus! Jangan sekali-kali lagi kau berteriak seperti itu di mukaku! Aku peringatkan—
Gogo : Lantas? Kau pikir apa cuma dirimu yang bisa berteriak-teriak kasih perintah—
Pozzo : [Sementara Didi dan Gogo bersitegang] Tomat! Tomatku? Di mana tomatku? Lari ke mana dia? Oh! Hai, apa kalian ada yang melihat tomatku? Aku tidak akan bisa menyulap kalau tidak ada tomat itu. Hai, apa kalian—
Gogo : Mana aku tahu tomatmu!
Pozzo : [Kepada Didi] Didi?
Didi : Persetan dengan tomatmu!
Pozzo : [Mencibirkan bibir] Begitu saja marah. Aku sulap baru tahu rasa. Pus! Pus! Pus! Tomat! Tomatku sayang— [Meneruskan kembali mencari tomatnya]
Didi : Kalian memang lamban! [Minum] Tuhan, Kau memang Maha Pemurah, sampai-sampai Kau mau direpotkan untuk menciptakan orang-orang macam mereka segala!
Gogo : Kaulah yang sebenarnya merepotkan, Didi, karena kau terlalu cerewet!
Didi : Aku cerewet karena— Ah, sedari dulu aku memang selalu yakin jika guillotine ini lebih baik daripada kalian. Sekalipun aku tidak pernah mendengar dia mengeluh. Dia selalu siap dengan apa yang mesti dikerjakannya. Lihatlah, seperti juga aku, dia begitu kokoh! Tidak seperti kalian, rapuh. Terutama kau, Gogo: laki-laki sentimentil-melankolis! Hah!

[Pozzo yang bermaksud mencari tomat di dalam topi yang dipakainya, kini tampak kesulitan untuk membuka topinya]

Gogo : Jangan terlalu yakin dengan ucapanmu, Didi! Kau sendiri seorang pemabuk!
Didi : Menjadi pemabuk lebih baik tinimbang kau! Kau selalu mabuk sebelum mabuk! Laki-laki macam apa yang tak becus memakai sepatu?! [Minum]
Gogo : Hentikan ocehanmu itu, Didi! Atau mulutmu itu perlu kusumpal dengan— [Merogoh saku mantelnya, namun tangannya tak bisa segera ia keluarkan, seakan tersangkut sesuatu. Seterusnya, Gogo kini sibuk untuk bisa mengeluarkan tangan dari saku bajunya itu]
Pozzo : Salah seorang dari kalian pasti telah mencuri tomatku! Tomat kesayanganku. Tomat—Ugh!
Gogo : Jangan sampai kau tertulari Didi untuk selalu menuduh, Pozzo!
Didi : Tomat? Hah! Tomat sama sekali tidak memabukkan! [Minum]
Pozzo : Tapi tak mungkin tomatku tidak ada kalau tidak ada yang mengambilnya.
Didi : Mungkin dia melarikan diri karena merasa bosan terus dibawa-bawa olehmu. Bagaimanapun tomatmu itu butuh kebebasan agar bisa menentukan kehendaknya sendiri, tanpa campur tangan darimu. Bukankah begitu? [Menoleh pada guillotine]
Pozzo : Itu tidak mungkin. Aku sangat mengenal betul tomatku. Tomat kesayanganku sama sekali tidak membutuhkan kebebasan macam itu. Suatu kali tomatku itu pernah bilang—
Didi : [Seperti deklamasi] Jika aku bebas maka sebenarnya aku tidak bebas. Tapi justru karena aku tidak bebas, maka pada saat itu sebenarnya aku bebas.
Pozzo : Kau ternyata pintar, Didi.
Gogo : Pozzo, tentu saja dia seolah-olah menjadi pintar, karena kata-kata itu sudah terlalu sering kau ucapkan! Apa yang diketahui Didi tentang kebebasan selain botol-botol minumannya itu. Dia cuma pandai mengutip! Kau seharusnya tidak terima karena kata-katamu, maksudku, kata-kata tomat kesayangamu itu dikutip, terutama oleh seorang pemabuk. Kalau aku jadi kau, aku pasti akan segera menyulap Didi jadi seekor ayam!
Pozzo : Bagaimana aku akan menyulapnya kalau topiku ini sulit sekali kubuka. Ugh—
Gogo : Kemari! Aku bantu kau, kau bantu aku. Siap? [Untuk beberapa saat Pozzo dan Gogo tampak saling tarik-menarik]
Didi : [Melihat tingkah Pozzo dan Gogo] Mereka memang tidak lebih dari sekumpulan kedunguan! Tuhan! [Minum] Tidakkah Kau lihat betapa mereka terlalu dungu untuk menemaniku? Hei, kalian, kedunguan! [Minum, lalu bahak tertawa] Turunlah, Tuhan! Hanya Kau saja yang pantas menemaniku; kita mabuk bersama dan bisa segera memulainya!

[Topi Pozzo berhasil lepas; dari dalam topinya itu menggelinding pula tomat yang dicarinya. Pozzo bersorak riang; serta merta ia meninggalkan Gogo, tak lagi peduli jika tangan Gogo masih belum terlepas dari sakunya itu.]

Pozzo : [Gembira] Tomatku! Tomat kesayanganku!
Gogo : Kau masih harus bantu aku, Pozzo!
Pozzo : Tapi aku telah menemukan tomatku. Lihatlah! Gogo. Didi. Tomat kesayanganku. Merah. Segar. Lucu. Bagaimana? Oh, ya! Atas nama tomat, [Mengangkat tomatnya tinggi-tinggi] kini aku akan bernyanyi: Tomat-tomat-tomat. Tomat-tomat-tomat. Tomat namaku. Akulah si Tomat— [Terus bernyanyi, memainkan-mainkan topinya, dan menunjukkan beberapa gerakan sulap seakan-akan seperti tengah berada di panggung pertunjukkan]
Gogo : [Sementara Pozzo bernyanyi] Aku memang selalu sendiri. Sendiri!
Didi : [Tertawa] Bravo! Aku suka itu. Pada akhirnya kau mengakuinya juga.
Gogo : Kesendirianku sungguh sangat jauh berbeda dengan kesendirianmu, Didi!
Didi : Sendiri adalah sendiri. Chers! [Mengangkat botol, minum, tertawa]
Gogo : Paling tidak aku punya kawan yang benar-benar menganggapku sebagai kawan!
Didi : O-ho, jadi kau tidak melihat betapa akrabnya aku dengan dia? [Memeluk guillotine] Selama ini Gogo ternyata tidak pernah tahu jika kita bersahabat baik. [Tertawa] Betapa malangnya.
Gogo : Justru karena benda ini kawanku harus mati!
Didi : Bravo! Malangnya Gogo!
Pozzo : Jadi kau kenal dengan salah seorang yang tadi siang kepalanya menggelinding di sini, Gogo?
Gogo : Dia tak seharusnya mati! Dia tidak bersalah! Dia hanya berada di tempat dan waktu yang salah!
Didi : Dengan kata lain, kau ingin mengatakan guillotine inilah yang salah?
Pozzo : Mungkin pengadilan yang telah menyulapnya: ‘fram-fram jring!’, dan kepala teman Gogo pun menggelinding. Ya, tidak mengherankan. Aku tahu jika di pengadilan itu ada begitu banyak pesulap hebat. [Kembali asyik dengan sulapannya] Fram fram sinas fram sulfana pomarakus nehi-nehi falsafati katalamus—
Gogo : [Gusar] Dia sungguh tidak bersalah!
Didi : Kau dengar itu, Pozzo? Tidak bersalah! [Tertawa]
Pozzo : [Acuh tak acuh] Apa temanmu seperti tomatku ini, Gogo? Fram-fram—
Gogo : Jangan kau samakan Faustus dengan tomat! Faustus sama sekali tidak suka tomat!
Pozzo : Pantas saja kalau begitu.
Gogo : Dia tidak bersalah! Tidak seharusnya dia mati dengan benda keparat ini!
Didi : Apalah bedanya bersalah atau tidak bersalah. Temanmu sudah mati!
Pozzo : Karena tidak suka tomat.
Gogo : Bagimu segalanya memang tidak akan ada beda, Didi. Hidup atau mati bagimu sama saja, tak ada artinya. Karena kau selamanya memang akan selalu sendiri. Kau adalah orang yang akan selalu ditinggalkan! Tidak seperti Faustus. [Tangannya berhasil terlepas] Dia punya keluarga yang hebat. Istri yang cantik. Anak-anak yang manis. Pintar—
Pozzo : Kalau pintar dia pasti akan berkebun tomat.
Gogo : Diamlah, Pozzo! Aku sedang bicara tentang Faustus! Faustus yang tidak seperti Didi! Tidak seperti kau! Faustus yang saleh dan selalu peduli; Faustus yang begitu mencintai alam dan kasih sayang sesama manusia; patriot yang sopan dan ksatria; patuh dan suka bermusyawarah; rela menolong dan tabah; rajin, trampil, dan gembira; hemat, cermat, dan bersahaja; disiplin, berani, dan setia; bertanggung jawab dan dapat dipercaya; suci—
Didi : Tuhan, betapa sempurnanya hidup jika dunia berisikan orang-orang macam Faustus! Cuah! [Menyemburkan minuman dari mulutnya] Mimpi!
Gogo : Hidup dan matinya Faustus adalah kehormatan yang pantas untuk selalu dikenang! [Berlutut di dekat guillotine] Sint mihi dei Acherontis proptii! Valet numen triplex, Jehovce! Ignei, aërii, aquatani spiritus salvete! Orientis princeps Belzebug, inferni ardentis monarcha, et Demogorgon, propitiamus vos, ut appareat et surgat, Mephistophilis! Quid tu moraris, per Jehovam, Gehennam, et consecratam aquam quam nunc spargo, signum que crucis quod nunc facio, et per vota nostra, ipse nunc surgat nobis dicatus, Mephistophilis![3]
Didi : [Semakin gusar] Hentikan semua ocehan ini! Kita harus segera memulainya! Jangan biarkan dia menunggu! Kita sudah terlambat!
Pozzo : Haruskah aku sulap agar Gogo berhenti mengoceh?
Gogo : Aku tidak mengoceh! Aku sedang berdoa!
Pozzo : Hebat! Gogo bisa berdoa.
Didi : Hah! Semenjak kapan seorang Gogo bisa berdoa?
Gogo : Kalian jangan mengganggu doaku!

Pozzo dan Didi sejenak memperhatikan tingkah Gogo yang sedang khusyuk berdoa

Didi : [Kepada Pozzo] Apa katanya? Kau mengerti?
Pozzo : [Sambil manggut-manggut] Oh, quam quam. Seperti fram fram dalam mantra sulapku.
Didi : Hm. Sepertinya menarik. [Menarik lengan Pozzo, mendekati Gogo. Mereka berlutut, dan kemudian menirukan doa dan gerakan-gerakan Gogo dengan caranya masing-masing]

[Gogo terus mengulang-ulang doanya.]

Didi : [Setelah sekian lama] Ah, bahkan berdoa pun lama! Kau memang lamban, Gogo!
Pozzo : Mantra sulapku tak sepanjang itu. Hai, Gogo, apa Tuhanmu tak kecapaian mendengarkan doamu? Lihatlah, Tuhanmu itu bahkan sudah terkantuk-kantuk dibuatnya.
Didi : Padahal cukup dengan: Tuhan! perkenankan aku mabuk sepuasnya! [Minum]
Gogo : Ssst! Jangan ganggu aku! Ini doa khusus. Untuk Faustus! [Meneruskan doanya]
Pozzo : [Menggerutu] Faustus! Faustus! Dari tadi cuma Faustus! Hai, Gogo, apa sebenarnya kau ini sedang jatuh cinta pada Faustus? Apa bagusnya Faustus jika dia tidak suka tomat!
Didi : Sangat mungkin, Pozzo! Sangat mungkin. Seorang yang sedang jatuh cinta memang biasanya tiba-tiba selalu berdoa! Hah! [Minum] Dia itu bahkan terlalu seksi untuk ukuran seorang laki-laki. Lihat saja, kaos kaki yang dipakainya pun berwarna merah. Dan kalau kau singkap, akan bisa kau lihat jika betisnya itu putih mulus sama sekali tak berbulu, seperti betis seorang wanita. Hah!
Pozzo : Sebentar, aku pastikan. [Seolah-olah menyulap] Fram fram sinas fram betisius gogo mulus—
Gogo : [Berdiri, menghampiri Pozzo dan Didi] Aku bilang, jangan ganggu doaku! Apa kalian tak bisa sedikit saja menunjukkan rasa hormat pada seseorang yang sedang berdoa? Apa aku perlu menyumpal mulut kalian itu dengan sepatu?
Pozzo : Jangan sepatumu, Gogo. Bau.
Didi : Apa betul Faustus itu kekasihmu?
Gogo : Peduli apa dengan kalian jika Faustus memang benar kekasihku? Dia memang sangat pantas untuk menjadi seorang kekasih.
Didi : Kau dengar itu, Pozzo? [Mendekati Gogo, seperti hendak memeluknya] Oh, Romeoku. [Tertawa] Bisa kubayangkan, Gogo lalu akan segera menyambutnya [Meraih lengan Pozzo dan mendekapnya], sedikit bertanggo, dan bernyanyi: ‘Meski kau mati, dipenggal guillotine ini, tapi kau akan tetap kukenang, karena kau kasihku tersayang—’ Hah! Lebih baik botol-botolku ini kusuruh bunuh diri daripada punya kekasih laki-laki!
Gogo : Faustus adalah orang yang sangat berarti. Dia adalah kasih sayang itu sendiri! Tidak seperti kau, Didi, seorang pemabuk kesepian yang hidup-matimu hanya untuk dikasihani. Jangankan ada seorang manusia yang mau mengasihimu. Aku berani bertaruh, bahkan guillotine itu pun sebenarnya tidak pernah mau menjadi temanmu karena dia tahu betul jika kau adalah orang yang sangat menyedihkan; lebih menyedihkan dari nasib orang-orang dipasungan yang siap menunggu ajal dengan kepala terpenggal!
Didi : Tahu apa kau tentang diriku? Tentang guillotine ini?
Pozzo : Apa aku perlu menyulapnya jadi kekasihmu, Didi? Fram fram sinas—
Didi : Diam, Pozzo! Menjauhlah! Sulapanmu menyebalkan! Urusi saja tomatmu sebelum tomatmu itu dimakan cacing seperti Faustus!
Pozzo : Ulat! Cacing tak suka tomat! Seperti Faustus!
Gogo : Faustus tidak akan dimakan cacing!
Pozzo : Cacing makanan ayam. Petak. Petok. Petak. Petok. [Menirukan ayam]
Didi : Main-main! Pozzo! Tuhan, bagaimana mungkin aku sampai bisa bergaul dengan mereka?! [Minum] Pozzo!
Pozzo : [Tak menghiraukan Didi] Petok. Petok.
Didi : [Memburu Pozzo, mencengkramnya] Apa kau mau kusembelih dengan pisau guillotine itu?
Pozzo : Lepaskan! [Meronta] Kau membuat bajuku ini kusut, Didi.
Gogo : [Tertawa] Kegusaranmu itu membuat kau tampak lucu, Didi! Tampak kian menyedihkan!
Didi : Peduli setan! Hidupmu sendiri tidak kurang menyedihkannya dari aku! [Minum]
Sejenak mereka diam. Didi terus minum, entah sudah botol yang ke berapa; Gogo tampak sibuk lagi mengurusi sepatunya; sedangkan Pozzo merapikan kembali penampilannya sambil bernyanyi-nyanyi kecil.
Didi : Sekarang, bisakah kita mulai? [Tak ada jawaban] Hei, apa sekarang bisa kita mulai? Kita sudah terlalu lama membuatnya menunggu.
Gogo : Tak sejenak pun dia menunggu, Didi. Dia tidak akan ke mana-mana, karena dia memang tak pernah ke mana-mana. Dia akan selalu tetap di sana, di tempatnya.
Didi : Absurd.
Gogo : Kita yang absurd.
Didi : Argumenmu, Gogo. Aku butuh argumenmu!
Gogo : Itulah yang menjadikan kita absurd. Segalanya mesti membutuhkan argumen, padahal jelas-jelas segalanya bisa dibuat untuk jadi argumen.
Pozzo : Itu karena salah kalian sendiri, karena kalian tidak suka tomat. Seharusnya kalian menyukai tomat karena tomat akan bisa membantu kalian untuk semakin menyadari bahwa—
Didi : Aku muak dengan tomatmu itu, Pozzo!
Gogo : Apa tidak ada sesuatu yang lain di benakmu selain tomat? Tidakkah kau menyimak jika kami sedang bertengkar tentang masalah yang jauh lebih besar ketimbang tomat?
Pozzo : Kalau begitu kalian jelas-jelas belum tahu apa tomat itu sebenarnya. Yang kalian pahami tentang tomat baru hanya sebatas permukaan, belum pada hakikat dan esensinya. Inilah yang menyebabkan kalian selalu saja meremehkan tomat atau segala sesuatu yang berhubungan dengan tomat. Mungkin benar, dalam eksistensi an sich-nya tomat adalah tomat itu sendiri, tak berbeda dengan sepatu bututmu atau botol minuman Didi. Tapi jangan salah, selain obat yang sangat mujarab untuk jerawat, di dalam diri tomat itu pun terkandung relasi teologi dialektis yang menyegarkan; ya, fram fram sinas fram falsafati katalamus nehi-nehi—Jus tomat. Saus tomat. Begitulah, [Mengangkat tomatnya tinggi-tinggi] tomat adalah kekenyalan yang menodakan. Tomat-tomat-tomat. Tomat-tomat-tomat. Tomat namaku. Akulah si Tomat— [Bernyanyi]
Gogo : Cukup, Pozzo! Hentikan! [Merebut tomat dari tangan Pozzo, membantingnya, dan menginjak-injak tomat itu hingga hancur] Begini mungkin lebih baik. Nah, [Menunjuk tomat yang hancur] saus tomat!
Didi : Bravo! Bagus, Gogo! [Mendekati tomat yang sudah hancur, menginjak-injaknya pula sepuasnya, lalu mengucurkan minuman di atasnya] Jus tomat!
Pozzo : [Setengah mendesis setengas mendengus] Kejam! [Seolah-olah sedih, lalu duduk termangu]
Gogo : Semoga surga menerima tomat Pozzo.
Didi : Untuk tomat Pozzo! [Mengangkat botol, minum]

Jeda. Waktu lewat.

Didi : Nah, apa sekarang sudah bisa kita mulai?
Gogo : Persoalan kita belum selesai, Didi!
Didi : Kebiasaan. Kau memang selalu saja punya persoalan!
Gogo : Bukan aku. Kita!
Didi : Seharusnya hanya Tuhan yang punya persoalan. [Minum]
Gogo : Tuhanmu!
Didi : Ya, Tuhanku! Karena Tuhanmu selalu tidur!
Gogo : Tuhanmu!!

[Sementara itu Pozzo tampak seperti menemukan sesuatu dalam pikirannya. Seperti juga ketika mencari tomatnya, dia pun kini sibuk mencari-cari sesuatu di seluruh pakaiannya.]

Didi : Jangan sampai aku kehilangan kesabaran, Gogo! Aku sama sekali tidak menginginkan salah satu dari kita ada yang sampai harus kehilangan kepalanya!
Gogo : Kalau itu memang perlu, aku sendiri telah siap! Aku sangat ingin sekali melihatnya. Itu mungkin akan menjadi satu hiburan paling riang buatku. Ya, mudah-mudahan kepalamu yang tidak terlalu bagus untuk topi sejelek itu akan menggelinding-gelinding dan dirubungi lalat!
Didi : Diam! [Mencengkram Gogo] Kau tahu akulah yang paling mampu membunuhmu! [Menghempaskan Gogo, lalu bergumam kepada guillotine] Seandainya mereka tahu betapa aku sangat menyayanginya. Seandainya saja mereka sekokoh dirimu, bisa tetap tegak berdiri untuk mencium bau setiap kematian—
Gogo : Kau sendiri yang sebenarnya takut, Didi!
Didi : [Tak menghiraukan Gogo] Hanya mereka. Hidupku. Kau. [Minum, tertawa] Aku selalu merasa begitu dekat karena kau telah merebut segala yang kumiliki. Apa lagi yang tersisa selain darah kental yang mengering dalam hidupku? Untuk mereka? Aku, si orang hitam! [Minum] Membusuk! Tak ada lagi yang bisa kupertaruhkan! Setiap orang yang kucintai mati di sini! Ini adalah kasta melawan kasta![4] Hidupku! Seluruh hidupku! [Minum] Membusuk! Busuk! [Mengucurkan minumannya pada guillotine] Mari kita minum. Mabuk. [Bernyanyi] Tuhan! Berbarislah bersama kami. Kita mabuk, menari, dan membusuk di sini!
Gogo : Jangan kau sembunyikan ketakutanmu itu dengan bernyanyi, Didi! [Tertawa]
Didi : [Memecahkan botol minumannya, mengacungkannya kepada Gogo] Ketakutanku hanyalah ketakutan! Aku akan mengajarkan padamu bagaimana ketakutan yang sebenarnya! [Siap menyerang Gogo]
Pozzo : [Tiba-tiba] Wortel!! Gogo. Didi. Wortel! [Menunjukkan wortelnya] Fram fram sinas fram falsafati katalamus nehi-nehi— Wortel! Ya, wortel! Biar kuat sepanjang hari, tak ada tomat wortel pun jadi! [Menghampiri Gogo dan Didi] Lihatlah wortelku ini. Jingga seperti matahari menyala. Panjang dan menggairahkan untuk diraba. [Bernyanyi] Wortel-wortel-wortel. Wortel-wortel-wortel. Wortel namaku. Akulah si wortel— [Terus bernyanyi, memainkan-mainkan topinya, dan menunjukkan beberapa gerakan sulap seakan-akan seperti tengah berada di panggung pertunjukkan]
Didi : [Menghampiri Gogo] Bukankah aku sudah berkali-kali bilang, sembunyikan wortelnya itu.
Gogo : Aku sudah menyembunyikannya. Secermat mungkin. Sebaik-baiknya—
Didi : Ah, kau ini memang selalu tidak becus.
Gogo : Aku tidak tahu bagaimana dia bisa menemukannya.
Didi : Itulah. Kau bukan cuma tidak becus memakai sepatu. Kau pun tidak becus menyembunyikan wortel! Sekarang bagaimana mungkin kita akan bisa segera memulainya! [Duduk, mengambil botol minumannya yang lain, minum, lalu menyodorkan botol minumannya itu pada Gogo]

Gogo dan Didi seterusnya tampak hanya terduduk diam, dan bergantian minum.

Pozzo : Hai, kenapa kalian diam? Gogo? Didi? [Menghampiri Gogo dan Didi] Apa kalian tak suka dengan wortelku? [Tak ada tanggapan] Ayolah! Bertengkar. Kalian semestinya bertengkar. Gogo? Didi? Fram fram sinas fram sulfana pomarakus falsafahi katalamus nehi-nehi— [Tak ada juga tanggapan] Ayolah! Kalian itu bagus kalau bertengkar. Ayo! Gogo! Didi! Hey! Bagaimana denganku? Bagaimana mungkin aku akan bisa ada jika kalian tidak bertengkar? Gogo? Didi? Ugh! Kalian membuatku tersiksa. [Duduk kesal di dekat Didi dan Gogo]

Sejenak ketiganya diam.

Pozzo : Apa lagi yang harus kita lakukan? [Mengunyah wortelnya]
Didi : Di sini tak ada lagi yang bisa kita lakukan. [Minum, menyodorkan botol minuman pada Gogo]
Gogo : Juga di tempat lain. Mungkin. [Minum, menyodorkan botol minuman pada Pozzo]
Pozzo : Lantas? [Minum, menyodorkan kembali botol minuman pada Gogo, menawarkan wortelnya pada Didi]
Gogo : Begini saja cukup. Mungkin. [Minum, menyodorkan botol minuman pada Didi]

Didi meneguk minuman itu hingga tandas tak tersisa. Pozzo terus mengunyah wortelnya, dan menawarkannya pada Gogo dan Didi.

Waktu lewat.

Pozzo : [Tiba-tiba, menunjuk ke kejauhan] Bintang jatuh!

Gogo dan Didi menitikkan pandangannya ke arah yang ditunjuk Pozzo. Ketiganya mencoba untuk memperhatikan dengan cermat hingga bintang itu benar-benar jatuh.

Didi : [Menunjuk] Ke sana! Ke padang di balik bukit tinggi itu!
Gogo : [Riang] Bagaimana? [Menatap Pozzo dan Didi bergantian]

Mereka lantas saling berpandangan.

Didi : [Riang] Ya!
Pozzo : [Riang] Ayo!
Gogo : Aku di depan.
Pozzo : Aku duluan.
Didi : Aku.

Sesaat mereka berebut untuk berada di depan.

Yang terdepan : Ayo!

Mereka melakukan gerakan (seolah-olah) berjalan.

Waktu lewat.

Yang terdepan : Lurus?
Seseorang : Ya, lurus lebih dekat.

Waktu lewat.

Yang terdepan : Sebentar. [Beranjak dari barisan, sesaat matanya mencari-cari arah] Ke sana! Terus ke arah sana! [Gegas masuk lagi barisan]
Yang terdepan : Ayo!

Mereka kembali berjalan.

Waktu lewat.

Didi : Dia pasti sudah terlalu lama menunggu.
Pozzo : Kalau saja tomatku tak kalian injak.
Gogo : Dia tidak menunggu, Didi. Selamanya dia akan selalu berada di sana.

Waktu lewat.

Pozzo : Kalian pernah diceritakan bagaimana rasanya mati?
Gogo : Jangan bercanda, Pozzo. Semua orang bahkan pernah merasakannya.
Didi : Aku tiga kali. Mungkin―
dst.

Percakapan-percakapan kecil di antara mereka terus berlanjut diiringi hujan balon, dls..

Lampu fade out.

lll

· bandung, pajajaran, 19 juli 2000


·)Disusun untuk keperluan pementasan Gelanggang Seni Sastra Teater dan Film (GSSTF) Unpad pada acara Pertemuan Teater Eksperimental Mahasiswa Nusantara di Universitas Andalas Padang, 7—13 Agustus 2000. Disunting oleh Moh. Syafari Firdaus dari hasil proses latihan dan sejumlah diskusi dengan Ramdhan Taufik, Yogi Imamuddin, Dedy Rosadi, Mujib Prayitno, Sesilia Dinda Prameswari (Gogo/Pendeta), Deasy Nurhayati (Pozzo/Terhukum), dan Anita Gayatri Didi/Algojo).[1] Doa Pemberkatan: Atas nama Bapak, Putra, dan Roh Kudus. Amin.

[2] Doa Kematian: Istirahat abadi berikanlah, ya Tuhan: dan cahaya yang kekal pancarkanlah atas mereka. Bagi-Mu, Tuhan, lagu pujian, dan kepada-Mulah orang membayar nazar; sudilah mendengarkan doaku. Kepada-Mulah semua orang datang. Ke dalam firdaus, semoga malaikat mengantarmu. Semoga para martir menyambut kedatanganmu dan menuntunmu ke kota suci Jerusalem. Semoga kau diterima bala malaikat, dan bersama si miskin lazarus, memperoleh istirahat yang kekal. Atas nama Bapak, Putra, dan Roh Kudus. Amin.

[3] Dikutip dari Faustus, Christopher Marlowe: “Berikanlah aku kemurahan hatimu, dewa-dewa Acheroni! Biarkan ketiga nama Jehovah menang! Sambutlah roh api, udara, dan air! Belzebub, pangeran dari Timur, raja api-api di neraka dan Demogorgon, kami mengambil hatimu dengan mengatakan, Mephistophilis akan bangkit dan muncul. Mengapa kau menunggu? Karena Jehovah, Gehenna, dan karena air suci yang sedang kuhamburkan, karena tanda salib yang kini aku buat, karena doa yang kami panjatkan: Mephistophilis, bangunlah!”

[4] Kalimat, “Ini kasta melawan kasta,” diucapkan oleh tokoh Oscar Yakob dalam Lawan Catur, Kenneth S. Goodman.

————-

Catatan untuk SWING!

Dari Tubuh Tanpa Kepala dan “Peristiwa Kebetulan”

Apa yang sesungguhnya terjadi dalam lakon ini, barangkali tidaklah terlalu penting untuk dibicarakan. Boleh jadi, yang tampak dari sejumlah peristiwa yang hadir di sini hanyalah sebentuk kekenesan yang bahkan terlalu dibuat-buat: fragmentaris, diskontinyu, facial, entah berpijak di mana, dan lebih dari itu: nonsens! Dengan sendirinya, suara (si)apa yang ingin diucapkannya sangat mungkin menjadi tidak penting juga.

Tidaklah menjadi soal kalaupun kemudian ada yang sampai berpikiran demikian, ketika lakon ini, di dalam realitas pentasnya, seakan tampak begitu berkeras untuk menyatakan dirinya sebagai sebuah peristiwa yang (harus) diyakini sebagai peristiwa teater. Yang jelas, di sini kami tetap berusaha untuk beranjak dari suatu dasar pemikiran dan gagasan yang harapannya akan bisa (tetap) teridentifikasi, yang bukan hanya sekadar letupan eskapis yang kenes dan sesaat, atau berkubang dengan membawa paradigma untuk mencari gaya berteater yang seterusnya akan bisa dipandang khas.

Dengan kata lain, kami tidak bertolak untuk menawarkan sesuatu yang boleh terbilang istimewa. Bahkan SWING! pada mulanya hanya merupakan semacam peristiwa happening art biasa: berangkat dari dunia para aktor di wilayah ruang pertunjukkan untuk “bermain(-main)” dengan segala sesuatu yang sekiranya bisa dimainkan. SWING! pun sebelumnya tidak pernah dibayangkan akan menjadi pementasan seperti yang kami bawakan kali ini karena dalam proses awalnya ia lebih sering bergerak sebagai tubuh tanpa kepala yang terus menerka-nerka arah, senantiasa terbata-bata dalam usahanya untuk menelusuri setiap kepingan peristiwa yang ingin diucapkannya, dan juga serba tanggung ketika harus menjelajahi berbagai ruang kemungkinan baru yang tersedia untuk menemukan sebentuk entitas yang (benar-benar) bisa mengisi keterpenggalan pada dirinya. Kalaupun kini tubuhnya telah berkepala, semoga saja ia tidak tampak terlalu goyah di saat harus mengartikulasikan kehadirannya.

Dalam relevansinya dengan wilayah tekstual (literer) dan artikulasi verbal, kehadiran sejumlah teks tertentu sedikit banyak—dan secara langsung atau tidak—memang telah menyelinap di antara gagasan dasar yang ingin kami ucapkan: yang mungkin jelas terlihat adalah Menunggu Godot-nya Samuel Beckett yang dalam lakon ini secara jelas kami adopsi nama tokoh-tokohnya. Akan tetapi, hal itu tidaklah lantas mengartikan, kami (tengah) bergerak dalam sebuah usaha untuk mengedepankan frame Beckettian, maupun bermaksud untuk mendekonstruksi ataupun memparodikan teks Beckett tersebut.

Terus terang, dalam konteks pementasan ini kami tidak berpretensi untuk mengusung grand desain semacam itu, meskipun gagasan tersebut telah kerap terpikirkan jauh sebelum lakon SWING! ini lahir. Mungkin benar jika kemudian ada yang mencium aroma absurditas atau wilayah surealis di sini. Hal itu memang sangat kami sadari, meskipun secara naif perlu kami akui jika kehadiran aroma absurditas atau wilayah surealis itu pun sebenarnya tidaklah dipersiapkan dari semenjak awal sebagai wilayah artikulasi gagasan: sebagian besar darinya (secara sadar atau tidak) justru muncul dari temuan-temuan selama berjalannya proses (latihan), baik di tingkat kognitif maupun di tataran teknis-dramaturgi, yang kiranya menyediakan begitu banyak peluang bagi terciptanya sejumlah sensasi dari peristiwa kebetulan yang cukup menarik untuk terus dikembangkan.

Selebihnya, kami akan menyerahkan pementasan ini pada Anda. Semoga ternikmati.

Pun paralun. Hatur nuhun.l

· Moh. Syafari Firdaus, Sutradara

You may also like

Leave a Comment