Home Seni & Budaya “Teater Madani”

“Teater Madani”

by Dauzsy

Bahwa teater Indonesia (modern) lebih cenderung menampakkan dirinya sebagai “teater tokoh”, “teater sutradara”, tak ayal lagi, memang demikian adanya. Bahwa—terlepas dari soal, dengan tradisi semacam inilah teater (modern) Indonesia dibesarkan—keberadaan “teater sutradara” semacam itu kemudian dipandang bermasalah karena sifatnya yang terlalu sentralistik, lebih didominasi oleh seorang individu (sutradara), memang demikian pula kenyataannya. Bahwa, sebagai akibat dari sifatnya yang terlalu sentralistik itu, keberlangsungan jalannya proses kerja kreatif berteater menjadi akan sangat bergantung kepada sang sutradara, tampaknya itu pun adalah konsekuensi logis yang kemudian harus dihadapinya.

Akan tetapi, bagaimanapun, keberadaan “teater sutradara” ini pada akhirnya layaknya harus pula dipandang sebagai sebuah pilihan. Bagi yang sadar dan siap dengan pilihannya itu, mungkin mereka tak akan lagi memandang segala konsekuensinya sebagai masalah. Memang akan lain halnya bagi mereka yang berpikiran, “teater sutradara” adalah bentuk teater yang otoritarian, hegemonik, dan tidak cukup memberi ruang gerak bagi kreativitas kolektif berteater yang harusnya mengedepankan kerja esambel. Bagi yang berpikiran seperti ini, memang menjadi pantas kiranya jika mereka kemudian mencoba mencari pilihan bentuk lain dalam proses kerja berteaternya.

Maka demikianlah, Indra Tranggono pun yang mengedepankan tajuk Menggagas Teater yang Lebih Demokratis (Kompas, 19/3/2000) sebagai salah satu penyikapan dan jalan untuk keluar dari bentuk “teater tokoh” tersebut. Tawarannya adalah teater yang egaliterian: teater yang harus dipahami sebagai wilayah kultural yang memungkinkan siapa saja, dengan berbagai kreativitasnya, terakomodasi. Dengan bentuk teater semacam ini, harapannya akan bisa melahirkan pribadi-pribadi teater yang memiliki kemampuan teknis dan sekaligus wawasan.

Gagasan untuk menggeser “teater tokoh” menjadi teater yang lebih egaliterian semacam ini sebenarnya sudah cukup lama bergaung, terutama di wilayah kelompok-kelompok teater yang (mungkin kebetulan) tidak memiliki figur sentral yang lantas ditokohkan. Misalnya saja pada kelompok yang kemudian disebut sebagai “teater kampus”, paling tidak—dalam hal ini yang sempat saya amati—pada sejumlah teater kampus yang ada di Bandung.

Selain tawaran Indra Tranggono tadi, Fathul A. Husein, seorang sutaradara dan kritikus teater asal Bandung, pernah juga menawarkan dan sekaligus menegaskan kembali gagasan Saini KM untuk menghadirkan posisi dramaturg sebagai alternatif untuk mencairkan dominasi seorang tokoh di dalam proses kreatif kerja berteater. Selama ini, meski posisinya itu sebenarnya cukup penting, keberadaan dramaturg memang masih belum terlalu diperhitungkan oleh sejumlah kelompok teater kita di dalam pola produksi pementasanya. Padahal, kehadiran peran kreatif seorang dramaturg akan bisa lebih mendesentralisasikan peran sutradara yang umumnya menjadi tokoh dan memegang peranan sentral itu. Dalam hal ini, sederhananya, seorang dramaturg akan bisa menjadi partner bagi sutradara, terutama dalam kaitannya untuk menyelesaikan hal-hal yang lebih bersifat konseptual.

Kedua tawaran tadi kiranya memang menarik untuk disikapi lebih lanjut. Sebagai orang yang meminati dan bergelut dengan dunia teater, saya sendiri tampaknya mesti bersepakat dengan kedua gagasan tersebut. Hanya saja, paling tidak ini yang sempat saya rasakan, upaya untuk mewujudkan desentralisasi semacam itu kiranya akan tetap terhambat jika segala hal yang kemudian berkaitan dengan pola manajemen produksi (pementasan)—yang dalam pengamatan sepihak saya masih kerap belepotan untuk sebagian besar kelompok teater kita—masih belum bisa terbenahi.

Saya pikir, pola manajemen produksi (pementasan) itu pun layak untuk tetap kita cermati. Bahkan sangat mungkin, justru di sinilah letak pangkal persoalan sebenarnya ketika kita harus berbicara ihwal konstelasi permasalahan teater (modern) di Indonesia.

²²

KALAUPUN harus disebut, teater adalah salah satu genre seni yang nasib hidupnya masih belum terlalu beruntung di Indonesia, mungkin tidaklah terlalu berlebihan. Dilihat dari segi pertumbuhan dan perkembangannya, seni teater sebenarnya boleh dibilang sudah bisa menampakkan keberadaannya. Hanya saja, teater agaknya masih belum mampu untuk memancangkan eksistensinya di tengah-tengah masyarakat.

Keberadaan dan nasib hidup teater masih kerap terongkang-ongkang: getir. Begitu pun dengan nilai ekonomis yang melekat pada dirinya, nyaris harus selalu mengalami defisit. Kondisinya sangat jauh berbeda, kalaupun kemudian harus dibandingkan, dengan keberadaan dan nasib hidup seni musik atau film (sinetron), misalnya, yang terbilang sudah setahap lebih maju menuju arah garis kemapanan. Kedua genre seni ini, telah mampu mengartikulasikan dirinya, dan kemudian bisa menggelembung bersama dunia industri untuk menjadi sebuah institusi profit, energi kapital, yang sangat menjanjikan. Maka cukup bisa dimengerti kiranya kalaupun teater ini—dan juga sastra—masih kerap dikategorikan sebagai “keluarga seni pra-sejahtera”.

Memang, ada juga segelintir kelompok teater kita yang telah mampu melepaskan diri dari cengkraman kegetirannya. Konon, Teater Koma N. Riantiarno selalu bisa menembus batas defisit di dalam setiap garapan pementasannya. Belakangan, mungkin begitu pula halnya dengan beberapa kelompok ketoprak sempalan Srimulat yang dibesarkan oleh televisi. Sementara bagi kelompok-kelompok teater yang lain, untuk bisa survive saja tampaknya itu sudah terbilang cukup bagus bagi mereka.

Kesannya memang menjadi begitu materialistik jika kita berbicara teater dalam wilayah “energi kapital” semacam ini. Namun, soal ini kiranya tetap tidak bisa dikesampingkan begitu saja, terlebih ketika kita harus bergelut di dalam sebuah kelompok yang lebih bersifat “profesional”. Lagi pula, proses kerja kreatif berteater nyaris selalu memakan cost kapital yang cukup mahal. Jika hal ini tidak kita perhitungkan, niscaya teater akan tetap hidup dengan cara “menggelandang”, terus menjadi sebuah kerja gerilya.

Betul, memang tidak jadi mengapa. Cara itu pun adalah sebuah pilihan juga. Akan tetapi, apakah hidup teater mesti terus seperti itu? Dan, seberapa banyakkah individu atau kelompok teater yang kemudian akan tetap mampu bertahan (cukup panjang) dengan kondisi demikian; tetap intens dan konsisten dengan proses kerja kreatifnya tanpa terbebani bayang-bayang “dunia sembako” yang justru menjadi kebutuhan dasar hidupnya sebagai manusia?

Mungkin hanya satu dari seribu, atau bahkan dua dari sejuta.

²²²

You may also like

3 comments

cakwo November 1, 2007 - 8:45 am

kami punya media cetak berupa bulletin “ACTING”, disebarkan di pelajar, mahasiswa dan umum(komunitas seni), dijual seharga Rp.1000,-. boleh yah masukin tukisan ini ke buletin.

Reply
dauz November 1, 2007 - 8:52 pm

tentu saja. dengan senang hati. silahkan 🙂

Reply
dauz November 1, 2007 - 8:52 pm

tentu saja. dengan senang hati. silahkan 🙂

Reply

Leave a Comment