Beranda » Seni & Budaya » Sastra » Tentang Proses Kreatif

Tentang Proses Kreatif

Oleh Moh. Syafari Firdaus
2 komentar 1.2k dilihat 7 menit membaca

Mutu karya puisi tidak tergantung pada gaya (style) atau aliran (movement), melainkan pada kesejatian (authenticity) dan keaslian (originality)-nya. —Catatan Saini K.M. dalam rubrik Pertemuan Kecil

Ketika kita membaca hasil karya sastra, puisi-puisi dari seorang penyair, misalnya, kita mungkin sering menjumpai fakta  jika puisi yang kita baca itu cenderung mirip dengan karya puisi dari seorang penyair yang lain. Biasanya, karya puisi yang kita baca itu cenderung mirip dengan karya-karya puisi dari para penyair yang dipandang mempunyai nama besar.

Dengan seringnya muncul fakta itu, mungkin sempat membuat kita bertanya-tanya, mengapa hal ini terjadi? Bilakah ini merupakan suatu gejala umum biasa ataukah suatu hal yang semestinya harus dihindari?

Sejumlah kalangan menilai, karya (sastra) yang baik adalah karya yang bisa menginspirasi pengarang lain untuk berkarya. Jika menggunakan cara pandang demikian, maka secara tidak langsung hal itu mengisyaratkan, gejala kemiripan atau keterpengaruhan bisa dipandang biasa dan wajar adanya. Bahkan ada yang menganggap, gejala seperti itu merupakan salah satu bagian kecil dari sebuah jejak panjang kepengarangan seseorang. Di sinilah ia bisa berproses, sebagai sarana tempat ia menempa dan mencari jati dirinya, sekaligus berlajar terhadap karya-karya pendahulunya.

Diakui atau tidak, sebagian besar pengarang agaknya sempat melalui tahap ini. Tidak terkecuali penyair besar seperti Chairil Anwar, misalnya. Dalam sebuah penelitiannya, Abdul Hadi WM (Chairil Anwar, Amir Hamzah, dan Tradisi Puisi Indonesia, Horison No.6/1983, hal.273-282) memandang, selain terpengaruh oleh Shauerhoft dan Marsman, Chairil pun banyak belajar pada tradisi penulisan puisi Amir Hamzah. Bahkan, tidak sedikit puisi-puisi Amir Hamzah yang digali oleh Chairil sebagai inspirasi untuk puisi-puisinya. Puisi-puisi karya Chairil seperti Doa, Syorga, Penghidupan, Taman, Senja di Pelabuhan Kecil, dan Suara Malam, secara berurutan bisa dibandingkan dengan puisi-puisi Padamu Jua, Doa Poyangku, Barangkali, Taman Dunia, Berdiri Aku, dan Ibuku Dahulu yang ditulis Amir Hamzah. Sebagai contoh, dalam analisis perbandingan antara puisi Doa dengan puisi Padamu Jua, Abdul Hadi menulis demikian:

“Kalau bagi Chairil Tuhan ‘tinggal kerdip lilin di kelam sunyi’, bagi Amir Hamzah Tuhan adalah ‘Kaulah kandil kemerlap/pelita jendela di malam gelap’. Bukankah pilihan imaji simboliknya sama? Apakah Chairil tak terpengaruhi Amir Hamzah dalam hal ini?”

Demikianlah, kepenyairan Chairil Anwar pun ternyata mengalami keterpengaruhan juga. Akan tetapi, kita bisa melihat jika Chairil tidak semata-mata terpengaruh. Ia tetap bisa menghadirkan otentisitas dalam karya-karyanya. Hal ini tampaknya penting untuk kita catat: meskipun buah karya kita merupakan hasil inspirasi dari karya orang lain, kita harus tetap bisa menjaga jarak dengan karya yang menginspirasi kita itu. Pertimbangan ini sangat penting agar karya yang kelak lahir dari tangan kita akan tetap bisa menampakkan keaslian dan kesejatiannya.

Dari sekian banyak penyair yang karya-karyanya terpengaruhi oleh penyair lain, sejumlah dari mereka memang ada yang berhasil dalam menjejaki proses kreatifnya itu. Keaslian dan kesejatiannya masih tam-pak bisa terbaca dalam karya-karyanya. Selain Chairil Anwar, boleh disebut pula, misalnya saja, Sanusi Pane yang terpengaruh oleh Noto Suroto (penyair Jawa yang menulis dalam bahasa Belanda), B.Y. Tand yang banyak mendapat pengaruh dari Sapardi Djoko Damono, Ibrahim Sattah yang esensi puisinya hampir menyerupai puisi-puisi mantranya Sutardji Colzoum Bachri, ataupun Gunoto Saparie yang mengikuti jejak sajak-sajaknya Goenawan Mohamad.

Di luar keterpengaruhan (epigonitas) itu, hanya ada satu hal yang benar-benar harus bisa kita hindari dalam kaitannya dengan perjalanan proses kreatif kita: menjadi seorang plagiator, penjiplak karya orang! Tindakan ini tentu sungguh sangat memalukan. Selain diri kita tidak akan mendapatkan apa-apa, buah karya kita pun boleh dipastikan tidak akan pernah dihargai sama sekali.

Kasus penjiplakan ini sebenarnya banyak juga ditemui dalam sejarah kesusastraan kita. Chairil Anwar pun sempat disebut-sebut sebagai plagiator karena puisi Antara Kerawang-Bekasi yang sebenarnya puisi terjemahan (adaptasi) itu diakui sebagai karya aslinya.

Dalam kasus-kasus penjiplakan tersebut, paling tidak ada dua jenis kasus yang bisa kita identifikasi. Pertama, penjiplakan secara terang-terangan. Pada jenis ini, si pengarang menjiplak secara utuh karya pe-ngarang lain untuk kemudian diakui jika karya itu adalah hasil kreasinya. Sedangkan jenis penjiplakan yang kedua adalah penjiplakan sebagian. Di sini si pengarang hanya melakukan “pencontekan” pada bagian-bagian yang dirasanya bagus dari karya orang lain untuk kemudian ditempatkan pada karyanya.

Pada jenis penjiplakan yang kedua ini, ada satu contoh yang kiranya menarik untuk dikemukakan. Kasusnya menimpa cerpen Iwan Simatupang yang berjudul Tunggu Aku di Pojok Jalan Itu (ditulis pada tahun 1961) yang dijiplak bagian pembukanya oleh Gimien Artekjusi untuk cerpen yang judulnya pun hampir sama, Tunggu Aku di Bawah Pohon Itu (dimuat di majalah Anita Cemerlang, No.284, 1988, h.76).

Pada bagian pembuka cerpen Iwan itu, tertulis demikian:

“Tunggu aku di pojok jalan itu,” katanya. “Aku membeli rokok dulu ke warung sana.”

Ia pergi. Sejak itu, istrinya tak pernah melihatnya lagi. Sepuluh tahun kemudian, ia kembali lagi ke kota itu. Dilihatnya istrinya masih menunggu di pojok jalan itu.

Sedangkan pada cerpennya Gimien, paparan pembukanya itu adalah demikian:

“Tunggu aku di bawah pohon itu,” katanya. “Kucarikan kau bunga-bunga di bukit.”

Ia pergi. Sejak itu Lia tak pernah melihatnya kembali. Tapi setiap sore dengan setianya ia menunggu di bawah pohon itu.

Dari contoh tersebut, bisa terlihat jika ada upaya dari Gimien untuk “mencontek” paparan pembukanya cerpen Iwan. Kendatipun pada beberapa bagian Gimien mencoba untuk mengubahnya, namun tetap saja esensi dari paparannya itu adalah paparan Iwan. Paling tidak, struktur naratif yang terjalin dalam cerpen Gimien serupa benar dengan struktur naratif dalam cerpen Iwan. Hal ini sungguh sangat disayangkan. Sebagai konsekuensinya, biarpun Gimien sendiri sebenarnya mempunyai gagasan lain yang ingin disampaikan dalam papar-an-paparan selanjutnya, hal ini sudah lebih dulu tercoreng dengan tindakan menconteknya itu. Keaslian dan kesejatian yang boleh jadi sebenarnya bisa muncul dalam cerpen Gimien, dengan sendirinya menjadi tidak murni lagi.

Memang, sebelum bisa menarik kesimpulan seperti itu, pada kasus pencontekan ini kita sebenarnya bisa menelusuri dugaan-dugaan yang mungkin saja terkait di dalamnya. Dugaan pertama, Gimien memang dengan sengaja dan sadar bahwa dirinya mencontek bagian pembuka cerpen Iwan itu. Jika demikian halnya, Gimien sudah bisa diklasifikasikan sebagai plagiator. Sedangkan dugaan kedua, boleh jadi sebenarnya Gimien tidak pernah membaca, bahkan tidak pernah tahu cerpen Iwan Simatupang itu. Segala kesamaan yang tersimpan di kedua cerpen tersebut, hanyalah kebetulan belaka. Nah, jika begitu kejadiannya, lantas bagaimana?

Boleh jadi jawabannya akan sangat rumit, meskipun akan bisa diselesaikan dengan sederhana. Yang jelas, Gimien bukan plagiator dalam konteks kebetulan semacam itu, hanya saja Gimien tetap berada dalam posisi yang tidak menguntungkan. Dalam hal ini, publik pembaca boleh jadi tidak akan pernah mau tahu dan seterusnya bisa menolelir konteks kebetulan semacam itu. Kenyataan yang ada di hadapan mereka hanyalah, paparan pembuka cerpen Gimien serupa dengan cerpen Iwan, yang notabene telah terlebih dulu diterbitkan.

Dengan demikian, dalam proses kreatif pun sebenarnya menuntut ketelitian dan kehati-hatian. Ketika kita ingin menjejaki proses kreatif, selain adanya motivasi dan rasa cinta terhadap sastra, alangkah akan baiknya pula jika kita sedikitnya memiliki wawasan dan pengetahuan tentang tradisi sastra (baik lokal, nasional, bahkan mungkin dunia), dan begitu pula dengan perkembangannya (Hal ini sebenarnya berlaku pula untuk para redaktur sastra di media massa agar mereka tidak kecolongan.). Dengan memiliki wawasan dan pengetahuan itu, setidaknya kita akan mempunyai bekal yang bisa diandalkan. Selain akan bisa lebih membantu kita dalam pencarian bentuk dan jati diri dalam proses kreatif kita selanjutnya, dengan ada-nya pengetahuan itu pun segala sesuatu yang harus dan ingin kita hindari akan bisa terdeteksi secara dini.

Akan tetapi, semua itu pada akhirnya akan berpulang pada diri kita sendiri. Apakah ruang kreatif kita hanya akan diisi sebatas menjadi epigon, mencontek karya orang (plagiator), atau belajar untuk “percaya diri”, akan sangat tergantung pada pilihan yang kita lingkari. Pilihan ini menjadi penting, karena akan bisa menentukan langkah kita selanjutnya. Dengan pilihan itu pula, kita sekaligus akan bisa menyiapkan diri untuk menghadapi segala kemungkinan dan konsekuensi yang pada akhirnya harus kita terima.

* * *

Mungkin Anda akan Tertarik

2 komentar

Yo 7 Oktober 2008 - 05:00

menarik, mas tulisan ini.

Balas
farida 19 September 2014 - 01:25

padat,singkat dan jelas tetapi kurang pnjelasan terhadap maksud dari proses kreatifNya?

Balas

Tinggalkan komentar