Home Sosial Keledai

Keledai

by Dauzsy

Keledai, konon, hewan dungu (sich!). Entah mengapa dianggap begitu. Yang jelas, ada begitu banyak cerita tentang keledai: dari mulai cerita yang tertulis di kitab suci sampai dengan lelucon konyol yang bisa bikin mati berdiri. Kita pun kiranya cukup akrab dengan peribahasa, “Bahkan keledai pun tidak mau terperosok pada lubang yang sama” ; atau, dengan versi lainnya, “Hanya keledai yang terperosok pada lubang yang sama.” Meskipun tafsir dari kedua peribahasa itu jauh berbeda, namun sang keledai tetap ditempatkan sebagai tanda, simbol, dan parameter yang sama: makhluk dungu!

Singkat kata, keledai adalah olok-olok.

Mari sekarang kita mengengok apa kata kamus tentang keledai. Di dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia yang disusun Badudu―Zain, keledai adalah (1) sejenis binatang seperti kuda, tetapi kecil tubuhnya, telinganya agak panjang; (2) (makna kias) bodoh dan keras kepala. Pengertian tentang keledai yang demikian (hanya berbeda sedikit redaksionalnya) akan bisa ditemukan pula, di antaranya, di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Kamus Umum Bahasa Indonesia susunan W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Bahasa Inggris Longman, Kamus Bahasa Inggris Merriam-Webster, dan di Ensiklopedia Encarta.

Sepintas lalu, memang terkesan tidak ada yang “salah” dengan pengertian yang diberikan kamus tersebut. Namun, mari sejenak kita renungkan: “keledai adalah sejenis binatang seperti kuda.”

Ya, pengertian yang diberikan kamus untuk menjelaskan keledai itu sungguh sangat luar biasa! Betapa tidak, untuk bisa tahu keledai, merujuk pada pengertian kamus tersebut, maka sebelumnya kita sudah harus mengetahui apa itu kuda. Pertanyaannya, bagaimana jika kita tidak tahu apa itu kuda? Kuda sendiri di dalam kamus (Badudu―Zain) dijelaskan sebagai “binatang tunggangan yang bentuk tubuhnya bagus, berkuku satu, banyak gunanya bagi manusia, misalnya sebagai tunggangan, penarik gerobak, bendi, bajak, pembawa beban.”

Kuda dan keledai memang masih satu keluarga, berasal dari familia Equaidae. Nama latin kuda adalah Equus caballus, sedangkan keledai adalah Equus asinus. Namun, mengapa keledai yang harus dijelaskan “seperti kuda”; tidak kuda yang dijelaskan “seperti keledai”?

Sungguh mengharukan kiranya nasib hewan bertampang lugu yang disebut keledai ini. Setelah dirinya kerap diasosiasikan dan diidentikkan dengan kedunguan, kebodohan, kebebalan, di kamus pun keledai harus dijelaskan melalui kuda: eksistensi keledai, bergantung kepada eksistensi kuda.

Harimau mengaum, kambing mengembik, kuda meringkik, lantas keledai?

Oleh karena di dalam bahasa Indonesia saya tidak menemukan padanannya, maka saya akan sebut saja, keledai menghikhiks.

Hiks.

You may also like

Leave a Comment