Home Buku Sihir Absurditas Camus

Sihir Absurditas Camus

by Dauzsy

Dalam alam semesta yang tiba-tiba kehilangan ilusi dan cahaya, manusia merasa asing. Keterasingan itu tidak ada jalan keluarnya, karena tidak ada kenangan pada tanah air yang hilang maupun pada suatu tanah terjanji. Perceraian antara manusia dan hidupnya, antara aktor dan pentasnya–itulah perasaan absurd yang sesungguhnya.”

Demikianlah, setelah ditinggal mati Drusila, adik dan sekaligus kekasih yang teramat dicintainya, Caligula pun dirundung duka. Dalam pelarian di pengasingannya ia kemudian menemukan pikiran, jika hidup yang sungguh indah dan nikmat ini pada akhirnya harus direnggut maut dengan tanpa alasan, lantas apakah hidup masih punya makna?

Kegelisahan Albert Camus yang muncul lewat lakon Caligula itu (dipentaskan di Paris untuk pertama kalinya pada tahun 1950), agaknya merupakan suatu pengejawantahan dari gagasannya yang secara gamblang dituangkan dalam buku Mite Sisifus ini (ditulis pada tahun 1941 dan diterbitkan pada tahun 1942). Pertanyaan mengenai apakah makna hidup (dan siapakah kematian), yang menyimpan aroma khas eksistensialisme ini, sepertinya merupakan rongrongan yang ingin disapa dan sekaligus berusaha diseka oleh Camus lewat sebuah kesadaran yang kemudian disebutnya sebagai absurditas. Boleh jadi hidup memang tak punya makna, namun kita, manusia, tak perlu bunuh diri karenanya: “Kita harus hidup dengan membiarkan ketercabikan ini, mengetahui harus menerima ataukah menolaknya.”

Bagi Camus, begitulah hakikat menjadi manusia. Mereka akan selalu dihadapkan pada suatu pilihan, antara renungan dan tindakan. Namun, hanya mereka yang hatinya memiliki kebanggaan saja yang akan merasa tidak mungkin akan ada pilihan tengah. Di sinilah manusia harus hidup dengan waktu dan mati dengan waktu atau menghapus diri di situ untuk suatu hidup yang lebih besar.

Pilihan seperti itu pula yang disodorkan Camus pada Caligula; dan Caligula memang tidak memilih bunuh diri ketika ia justru sangat menyadari bahwa manusia akan mati, dan tidak bahagia. Ia mencoba mencari jawaban lain lewat tindakan-tindakan yang dirasa akan mampu membebaskan derita kemanusiaannya itu. Tidak terkecuali, dengan tindakan pembebasan yang dilakukan dengan cara-cara “paling ekstrem” sekalipun.

Hanya begitukah absurditas yang digagas Camus?

Dua belas esai Camus yang tersimpan di dalam buku Mite Sisifus, Pergulatan dengan Absurditas ini semuanya menyajikan tema yang berkenaan dengan absurditas: mulai dari pengertian absurd, manusia absurd, hingga uraian mengenai kebebasan absurd, akan segera bisa ditemukan bagaimana pemahamannya. Di sini, Camus tidak saja secara gamblang membeberkan pokok-pokok pemikirannya tentang absurditas. Lebih dari itu, ia pun mencoba untuk menelusuri asal-usul absurditas, konsekuensi-konsekuensi yang muncul darinya, serta bagaimana aktualisasi absurditas yang terwujud dalam karya seni.

Tema absurditas yang dikedepankan Camus itu, secara garis besar dibagi menjadi empat bagian pembahasan: penalaran absurd, manusia absurd, kreasi absurd, dan esai berjudul “Mite Sisifus” yang sekaligus diangkat untuk melabeli buku ini. Bahasan Camus mengenai karya-karya Franz Kafka yang diturunkan sebagai apendiks, merupakan sebuah uraian yang tak kalah menariknya pula. Tentu saja, Camus pun melibatkan gagasan absurditasnya untuk mengupas sejumlah karya Kafka itu, terutama dalam konteks untuk membedah realitas yang menghinggapi dan harus dihadapi oleh tokoh-tokohnya.

* *

Diawali dengan perbincangan mengenai yang absurd dan bunuh diri, di dalam esai ini Camus memaparkan renungannya untuk mengungkap ihwal: adakah suatu logika sampai ke kematian? Hal ini sekaligus menjadi titik pijak bagi Camus untuk menyikapi masalah, apakah manusia harus bunuh diri jika hidup sudah tak bermakna lagi?

Persoalan bunuh diri ini kiranya memberi sejumlah cacatan penting bagi gagasan absurditasnya Camus. Bunuh diri, yang mengisyaratkan akan adanya penghinaan dan pengingkaran terhadap hidup, telah menyediakan Camus kesempatan untuk merenungi ketakbermaknaan hidup sebagai suatu kesadaran bahwa hidup justru akan menjadi bisa dihadapi.

Dengan kesadaran bahwa dunia ini absurd, sementara absurditas itu sendiri merupakan perceraian antara jiwa yang memiliki hasrat dan dunia yang mengecewakannya, antara kerinduan akan kesatuan, alam yang tersebar-sebar, dan kontradiksi yang membelenggunya, Camus seakan ingin meneguhkan bahwa manusia sebenarnya bisa mengubah sesuatu yang tadinya merupakan undangan kepada kematian sebagai aturan hidup. Oleh karena itu, sebagai penyikapannya, Camus menolak bunuh diri. Baginya, bunuh diri bukanlah pemecahan; semata-mata merupakan ketidaktahuan manusia untuk mau menerima keanehan kondisi dirinya yang sesungguhnya akan sangat mungkin membuahkan begitu banyak kegembiraan dan kebahagiaan. Di sinilah rahasia absurditas bersembunyi, dan Camus berhasil membongkarnya dengan kejernihan nalar yang melihat batas-batasnya sendiri: bahwa, meski sudah tak bermakna, hidup harus tetap dipandang sebagai suatu anugrah, karunia.

Maka hidup bagi Camus adalah menghayati absurditas. Di sini, yang dilihat oleh seorang manusia absurd adalah suatu dunia yang mendidih dan membeku, tembus pandang dan terbatas; tidak ada yang mungkin, namun segalanya diberikan, dan lebih jauh dari dunia itu yang ada hanyalah kehancuran dan ketiadaan. Sebagaimana Sisifus yang dihukum para dewa untuk terus mendorong batu sampai ke puncak dan kembali menggelindingkannya, seorang manusia absurd seterusnya dapat memutuskan untuk menerima hidup dalam dunia seperti itu, menimba dan menarik kekuatan-kekuatan darinya, seraya menolak untuk berharap dengan kesaksian yang gigih atas suatu hidup tanpa penghiburan.

Di sisi lain, Camus pun menyadari jika absurditas akan berakhir dengan kematian seperti hal-hal lainnya. Dengan sifatnya yang fana ini, maka absurditas akan selalu terikat dengan manusia dan dunia. Bahkan, ketiganya merupakan tritunggal yang tak bisa dipisahkan. Menghancurkan salah satu unsurnya, berarti menghancurkan seluruhnya. Tidak akan pernah ada absurditas di luar nalar manusia dan di luar dunia. Oleh karena itu, satu-satunya kekurangan yang mesti dimenangkan oleh absurditas adalah kematian yang terlalu dini: “Absurditas tidak bergantung kepada keinginan manusia, melainkan tergantung pada lawannya, yaitu kematian” (h.78).

Hal inilah yang membawa gagasan absurditas Camus menjadi bisa dipandang, sebut saja, “lebih humanis” jika dibandingkan dengan eksistensialisme, terutama yang digagas Sartre. Camus masih meletakkan manusia dalam eksistensinya yang secara dialektik berhubungan dengan sekeliling: manusia, dalam keterasingannya, harus bisa berhadapan dengan dunia, lingkungan, dan pentasnya. Pandangan Camus ini merupakan antitesis bagi Sartre yang justru melihat manusia lain sebagai neraka bagi eksistensi dirinya.

* *

Dalam relevansinya dengan dunia kesenian, dengan gagasan absurditasnya ini Camus kemudian menawarkan konsepsi mengenai seni yang terbebas dari muatan pesan: seni yang tanpa suatu tujuan. Sebagaimana absurditas itu sendiri, karya seni pun tetap dipandang oleh Camus dengan kesadaran akan adanya keterasingan dan perceraian. Bagi Camus, karya seni yang merupakan pengulangan monoton yang bergelora dari tema-tema yang sudah digubah dunia, sekaligus merupakan penanda bagi kematian suatu pengalaman dan penggandaannya: “Jika suatu ciptaan berakhir yang terjadi bukan teriakan kemenangan dan khayali dari sang seniman yang silau, melainkan kematian sang pencipta yang menutup pengalaman dan kitab kejeniusannya” (h.148). Kegiatan mencipta menjadi bukan untuk apa-apa. Lebih dari itu, karya seni seniman absurd tidaklah mempunyai masa depan: bahwa karyanya yang dihancurkan dalam sehari mesti sepenuhnya disadari jika hal itu tidak lebih penting daripada membangun untuk berabad-abad.

Dengan terlepasnya seni dari makna dan tendensi masa depannya, maka karya seni akan terlepas pula dari rambu-rambu ideologis yang membelenggunya. Hal inilah yang diyakini Camus, seni pada akhirnya akan bisa memberikan warna pada kekosongan. Namun, itu tidak lantas mengartikan kita akan bisa melihat karya seni sebagai lambang. Kita pun akan keliru jika menganggap karya seni sebagai tempat berlindung terhadap yang absurd. Bagi Camus, karya seni itu sendiri adalah gejala absurd. Begitu pula, karya seni tidak menawarkan jalan keluar untuk penyakit pikiran. Justru sebaliknya, karya seni adalah salah satu tanda penyakit yang memantulkannya pada seluruh pikiran manusia. Dengan kata lain, seni bukanlah suatu sarana pembebasan diri, melainkan untuk membebaskan diri sampai pada batas-batas yang dikenalinya sendiri.

* *

Jika kita simak, gagasan dasar absurditas Camus memang tidak terlepas dari paham-paham yang sebelumnya telah ditorehkan eksistensialisme. Sebagaimana dijelaskan Bertrand Poirot-Delpech dalam kata pengantar buku ini, Camus bukanlah penemu absurditas. Nietzsche, Kierkegaard, Husserl, Jaspers, telah terlebih dulu mengenali intuisi tersebut. Poirot-Delpech boleh menganggap Camus dalam Mite Sisifus tak hendak menganalisis para pendahulunya: ia hanya menggambarkan letak tonggak-tonggak dalam alam pikiran Barat melalui mereka. Namun, dengan kenyataan bahwa pada tahap tertentu Camus menyodorkan pemahaman baru, sesungguhnya ia telah berbuat lebih dari itu. Ia bahkan mampu melampaui mainstream eksistensialisme yang menjadi pijakannya, dengan mengafirmasi dan sekaligus juga menyangkalnya.

Relevansinya dengan realitas di Indonesia, gagasan absurditas ini kiranya memiliki daya tarik yang tidak berlebihan kalaupun harus disebut luar biasa. Dalam kata pengantar untuk Krisis Kebebasan, “Camus dan Orang Indonesia”, Goenawan Mohamad mengutarakan keheranan dan keanehannya dengan fenomena Camus yang di Indonesia begitu dieluk-elukkan, sementara Camus sendiri tidak pernah mengutarakan problem yang layaknya menjadi persoalan bagi manusia Dunia Ketiga, kecuali persentuhannya yang malang dengan situasi kolonial Aljazair. Jika Goenawan memandang Camus seperti punya daya sihir bagi para penulis Indonesia, maka Asrul Sani, sebagaimana dikutip Goenawan pula, menyebut bahwa orang Perancis yang satu ini adalah orang yang “berbahaya” karena menulis begitu bagus dan membuat kita terpesona.

* * *

You may also like

Leave a Comment